Algoritma

Logika dan Algoritma dasar 


Posting ilmu TI

setiap minggu membuat posting sebanyak 5 kali dan di publish di blog kita, dibawah ini adalah email yang diberikan oleh dosen algoritma untuk memulai posting di blog :

andri ahmad gozali, kami telah menerima data peerkenalan anda.
berikut informasi data yang anda berikan:
– Nama Lengkap  :  Andri ahmad gozali
– Email Aktif    :  Andrie_gozali@yahoo.com
– Handphone 1    :  085711110924
– Handphone 2    :  085711110923

Read more of this post


My blog in blogger

December 8, 2011 Leave a comment (Edit)

tugas selanjutnya yang pembuatan blogger dengan tema Teknologi Informasi, dari hasil postingan di wordpress sebanyak 5 artikel per-minggu :my blog : http://andriilmuti.blogspot.com

diblog ini mencakup informasi seputar teknologi informasi dan komputer diantanya tips & trick :

  • mengatasi masalah komputer hang
  • wirelles advaced
  • delay tolerant network
  • tutorial singkat menggunakan wajan bolik

Teknik Penyajian Fowchart

1.  Flow Direction Symbols (Simbol Pengarah Alur)

flow direction symbols

2.  Processing Symbols (Simbol Pemrosesan)

processing_symbols
processing_symbols_2

3.  Input-Output Symbols (Simbol Input-Output)
input_output_symbols
input_output_symbols_2

Berikut ini Flowchart dari contoh sebelumnya (dari artikel sebelumnya, yaitu menentukkan suatu bilangan termasuk Genap atau Ganjil). Silakan diperhatikan.

Contoh Flowchart - Bilangan Ganjil Genap

Contoh Flowchart – Bilangan Ganjil Genap

Oke, seperti udah Anda pelajari di bagian simbol – simbol pada Flowchart, pastinya Anda ingat dan mengerti maksud2 simbol tersebut. Program Flowchart, memang harus diawali dengan (START) dan diakhiri dengan (END). Langkah2nya pun sama, Input -> Proses -> Output.

  • Dari contoh di atas, Input berupa bilangan (variabel bil) disimbolkan dengan bangun jajar genjang (yang mewakilik input serta output, tergantung keterangan).
  • Langkah berikutnya adalah Proses. Proses disini terdiri dari 2 bagian, yaitu penyeleksian kondisi dan assignment ke variabel jenis. Penyeleksian kondisi, merupakan bagian penentuan hal yang akan dilakukan jika suatu syarat tertentu dipenuhi. Hal ini mungkin sama kayak Implikasi dalam pelajaran Logika Matematika SMA.
    ketika bil modulus 2 == 0, -> jenis = ‘GENAP’,
    jika tidak, otomatis bil adalah ganjil -> jenis = ‘GANJIL’
  • Langkah berikutnya, outputkan jenis bilangan. menggunakan simbol jajar genjang (seperti halnya input). Namun dapat juga menggunakan simbol display. **Lihat tabel simbol2 di atas**
  • Setelah output, program menanyakan, apakah ingin mengulang lagi?
    Jika ya, maka jalan program kembali ke langkah input.
    Jika tidak, maka program akan berhenti (END).
  • END.

Sepertinya cukup mudah dipahami (semoga), terutama bagi yang baru datang di dunia programming ^^
Mudah2an Anda semua tidak bingung dengan penjelasan saya di atas. Kalo masih ada bingung, jangan sungkan untuk bertanya.. ^^
Ga usah ragu, langsung kontak saya di :

08571111xxxx

referensi : wikipedia

dasar logika

DASAR – DASAR LOGIKA

Kalimat Deklaratif

Kalimat Deklaratif (Proposisi) adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya.

Berikut ini adalah beberapa contoh Proposisi :

  1. 2 + 2 = 4
  2. 4 adalah bilangan prima
  3. Jakarta adalah ibukota negara Indonesia
  4. Penduduk Indonesia berjumlah 50 juta

Penghubung kalimat

Sering kali beberapa kalimat perlu digabungkan menjadi satu kalimat yang lebih panjang. Misalnya kalimat : ` 4 adalah bilangan gena dan 3 adalah bilangan ganjil ` merupakan gabungan dari 2 buah kalimat : ` 4 adalh bilangan genap ` dan kalimat ` 3 adalah bilangan ganjil ` didalam logika dikenal 5 buah penghubung :

Simbol                 Arti                        Bentuk

1     ~       Tidak / Not / Negasi      Tidak ………

2     ^       Dan / And / Konjungsi   ….. dan ……

3     v       Atau / Or / Disjungsi      ….. atau ……..

4     →      Implikasi             Jika ……. maka …….

5     ↔    Bi – implikasi      ……bila dan hanya bila ……

Dalam matematika digunakan huruf – huruf kecil seperti p, q, r, … untuk menyatakan sub kalimat dan simbol – simbol penghubung untuk menyatakan penghubung kalimat.

Misalkan :

–          p menyatakan kalimat ` 4 adalah bilangan genap `

–          q menyatakan kalimat ` 3 adalah bilangan ganjil `

Maka kalimat : 1 4 adalah bilangan genap dan 3 adalah bilangan ganjil ` dapat dinyatakan dengan simbol p ^ q

Jika p dan q merupakan kalimat – kalimat, maka tabel kebenaran penghubung tampak pada tabel ( T = True/benar ; F = False/salah ). Perhatikan bahwa secara umum, jika ada n variabel ( p, q, …), maka tabel kebenaran memuat 2n  baris.

P q ~ p p ^ q p v q p → q p ↔ q
T T F T T T T
T F F F T F F
F T T F T T F
F F T F F T T

Contoh :

Misal   k : Monde orang kaya

s : Monde bersuka cita

Tulis bentuk simbolis kalimat berikut ini :

a  Monde orang yang miskin tetapi bersuka cita

b  Monde orang kaya atau ia sedih

c  Monde tidak kaya ataupun bersuka cita

d  Monde seorang yang miskin atau ia kaya tetapi sedih

Anggaplah negasi dari kaya adalah miskin dan negasi dari bersuka cita adalah sedih

Penyelesaian :

a. Kata penghubung tetapi mempunyai arti yang sama dengan kata penghubung  `dan`, sehingga simbolisnya adalah ~ k ^ s

b. k v ~ s

c. Kalimat tersebut berarti bahwa Monde tidak kaya dan sekaligus Monde tidak bersuka cita. Bentuk simbolisnya ~ k ^  ~ s

d ~ k v (k ^ ~ s)

2. Inferensi Logika

Logika selalu berhubungan dengan pernyataan – pernyataan yang ditentukan nilai kebenarannya. Sering kali diinginkan untuk menentukan benar tidaknya kesimpulan berdasarkan sejumlah kalimat yang diketahui nilai kebenarannya.

Argumen Valid dan Invalid

Argumen adalah rangkaian kalimat – kalimat. Semua kaliamat – kalimat tersebut kecuali yang terakhir disebut hipotesa ( atau asumsi/premise). Kalimat terakhir disebut kesimpulan.

Secara umum, hipotesa dan kesimpulan dapat digambarkan sebagai berikut :

P1

P2

P3

Pn

——————–

q  } kesimpulan

(tanda    q  dibaca ` jadi q `

Suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan yang disubsitusikan kedalam hipotesa, jika semua hipotesa tersebut benar, maka kesimpulan juga benar. Sebaliknya meskipun semua hipotesa benar tetapi ada kesimpulan yang salah, maka argumen tersebut dikatakan invalid.

Kalau suatu argumen dan semua hipotesanya bernilai benar maka kebenaran nilai konklusi dikatakan sebagai ` diinferensikan (diturunkan) dari kebenaran hipotesa `.

Untuk mengecek apakah suatu argumen merupakan kalimat yang valid, dapat dilakukan langkah – langkah sebagai berikut :

1 Tentukan hipotesa dan kesimpulan kalimat.

2 Buat tabel yang merupakan nilai kebenaran untuk semua hipotesa dan kesimpulan.

3 Carilah baris kritis, yaitu baris dimana semua hipotesa bernilai benar.

4 Dalam baris kritis tersebut, jika semua nilai bernilai benar, maka argumen itu valid. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai kesimpulan yang salah, maka argumen itu invalid.

Contoh :

Tentukan apakah argumen ini valid / invalid

a  p v ( q v r )             b  p → ( q v ~ r )

~ r                                          q → ( p ^ r )

—————-                           ——————–

p v q                                         p → r

Penyelesaian :

a Ada 2 hipotesa masing – masing p v ( q v r ) dan ~ r. Kesimpulannya adalah p v q. Tabel kebenaran hipotesa – hipotesa dan kesimpulan adalah :

Baris ke p q r q v r p v (qvr) ~ r p v q
1 T T T T T F T
2 T T F T T T T
3 T F T T T F T
4 T F F F T T T
5 F T T T T F T
6 F T F T T T T
7 F F T T T F F
8 F F F F F T F

Baris kritis adalah baris 2, 4, 6 (baris yang semua hipotesanya bernilai T. Pada baris – baris tersebut kesimpulannya juga bernilai T. Maka argumen tersebut valid.

 b  Hipotesa adalah p → ( q v ~ r ) dan    q → ( p ^ r ). Konklusinya adalah p → r, tabel kebenarannya adalah

Baris ke p q r ~ r qv~r p^r p→(qv~r) q→(p^q) P→r
1 T T T F T T T T T
2 T T F T T F T F F
3 T F T F F T F T T
4 T F F T T F T T F
5 F T T F T F T F T
6 F T F T T F T F T
7 F F T F F F T T T
8 F F F T T F T T T

Baris kritis adalah baris 1, 4, 7, dan 8. Pada baris ke 4 (baris kritis) nilai konklusinya adalah F, maka argumen tersebut invalid.

 Metode – Metode Inferensi

Metode Inferensi yaitu teknik untuk menurunkan kesimpulan berdasarkan hipotesa yang ada, tanpa harus menggunakan tabel kebenaran.

Ada delapan bentuk inferensi adalah :

ATURAN                   BENTUK ARGUMEN

1 Modus Ponen                              p → q

p

——–

q

2 Modus Tollen                               p → q

~ q

——–

~ p

3 Penambahan Disjangtif     p                      q

——-               ——-

p v q                p v q

4 Penyederhanaan                        p ^ q                p ^ q

Kojungtif                            ——                 ——

p                      q

5 Silogisme Disjungtif        p v q                p v q

~ p                   ~ q

——-               ——-

q                      p

6 Silogisme Hipotesis                    p → q

q → r

——–

p → r

7 Dilema                                           p v q

p → r

q → r

———

r

8 Kojungsi                                        p

q

——-

p ^ q

Contoh :

Pada suatu hari, anda hendak pergi ke kampus dan baru sadar bahwa anda tidak memakai kacamata. Setelah mengingat-ingat, ada beberapa fakta yang anda pastikan kebenarannya :

a. Jika kacamata ada di meja dapur, maka aku pasti sudah melihatnya ketika sarapan pagi

b. Aku membaca koran di ruang tamu atau aku membacanya di dapur

c. Jika aku membaca koran di ruang tamu, maka pastilah kacamata kuletakkan di meja tamu

d. Aku tidak melihat kacamataku pada waktu sarapan pagi

e. Jika aku membaca buku di ranjang, maka kacamata kuletakkan di meja samping ranjang

f. Jika aku membaca korang di dapur, maka kacamataku ada di meja dapur

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, tentukan di mana letak kacamata tersebut !

Penyelesaian :

Untuk memudahkan pemahaman dan penggunaan hukum – hukum inferensi, maka kalimat – kalimat tersebut lebih dahulu dinyatakan dalam simbol – simbol logika misalnya :

p : Kacamata ada di meja dapur

q : Aku melihat kacamataku ketika sarapan pagi

r : Aku membaca koran di ruang tamu

s : Aku membaca koran di dapur

t : Kacamata kuletakkan di meja tamu

u : Aku membaca buku di ranjang

W : Kacamata kuletakan dimeja sampan ranjang

Dengan simbol – simbol tersebut maka fakta – fakta di atas dapat di tulis sebagai berikut :

(a)         p → q

(b)         r v s

(c)         r → t

(d)         ~ q

(e)         u → w

(f)          s → p

Inferensi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1 p → q         fakta (a)

~ q              fakta (d)

——–

~ p            dengan Modus Tollen

2 s → p          fakta (f)

~ p             kesimpulan dari 1

———

~ s                        dengan Modus Tollen

3 r v s             fakta (b)

~ s              kesimpulan 2

———

r               dengan Silogisme Disjungtif

4 r → t            fakta (c)

r                kesimpulan 3

———

t              dengan Modus Ponen

Kesimpulan : Kacamata ada di meja tamu

Perhatikan bahwa untuk mencapai kesimpulan akhir, tidak semua fakta dipergunakan. Dalam contoh fakta (e) tidak digunakan. Hal ini tidak menjadi masalah selama penurunan dilakukan dengan menggunakan metode inferensi yang benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: